bertengkar

terlalu sering bertengkar

Pengalaman konseling terhadap keluarga yang bermasalah, kasus suami istri yang penuh konflik saya temukan salah satu penyebabnya adalah pernikahan yang dilandasi cinta yang premature dan immature. Cinta yang tidak matang dan yang dipaksakan keadaan. Meski orang beralasan menikah karena cinta, namun sesungguhnya bukan cinta yang mendorong mereka menikah. 

Lewat penelitian Lederer dan Jackson ditemukan bahwa cinta ternyata bukanlah menjadi alasan utama orang menikah. Ada beberapa alasan lain (yang lebih dominan) yang mendorong orang menikah, antara lain: karena kehamilan, tekanan sosial (misalnya dari orangtua menginginkan mereka segera menikah). Ada juga karena pengaruh buku-buku romantis dan tradisi (adat). Ada juga karena ingin lepas dari rasa kesepian dan kebosanan. Ada juga disebabkan takut akan keadaan ekonomi di masa depan.

Ada yang menikah karena merasa dengan menikah hidup lebih lengkap. Banyak orang menikah dengan alasan saling mencintai, namun mereka memahami cinta hanya sebagai psychological phenomena. Artinya, hanya kebetulan ada perasaan attracted atau passion (khususnya kaum remaja yang sedang bertumbuh hormon seksual—di mana daya tarik seksual lebih kuat daripada daya tarik pribadi). Misalnya melihat wajah cantik, kekayaan atau kepandaian; atau karena adanya kesempatan tertentu, sering ketemu lalu bergaul kemudian muncul perasaan cinta (witing tresno jalaran soko kulino). Lama-kelamaan, ketika muncul kesadaran baru, ia merasa pacarnya sebenarnya tidak terlalu menarik. Tetapi karena sudah mengikatkan diri, sulit untuk mundur. Terlambat. Ironisnya, kalau ketemu orang lain yang lebih baik, cantik/ganteng dan menarik, mudah juga putus.

Oleh karenanya,  beberapa saran sederhana saya bagi kaum muda yang sedang bergumul dengan menemukan salah satu sahabat yang hendak dijadikan pacar atau akan menikah adalah sebagai berikut:

Pertama, janganlah Anda menggerakkan cinta sebelum waktunya.

Raja salomo nan bijak menegaskan bahwa sekali Anda menggerakkan cinta, maka sulit mengontrolnya kembali. Salomo berkata, “Air yang banyak tidak dapat memadamkan cinta.” Khususnya, jika Anda masih remaja/muda dan belum matang secara emosi/karakter dan sosial Anda bisa mengorbankan siapapun demi apa yang anda sebut “cinta”. Anda bisa mengorbankan studi, kebiasaan baik, teman baik bahkan orangtua. Tak jarang ada yang mengorbankan iman alias menggadaikan cinta kepada Tuhan sang Penebus hidup.

Kedua, cinta yang tidak matang seringkali digantikan dengan kesenangan, uang dan fasilitas.

Beberapa mereka yang tumbuh dalam keluarga tanpa cinta tapi melimpah uang dan kesenangan, akan menggunakan hal yang sama untuk mendapatkan cinta seseorang. Dia menawarkan kesenangan—kenikmatan—dan uang. Namun Salono berkata, “Sekalipun ada orang yang memberi segala harta untuk cinta ia pasti akan dihina” (Kid. 8:47).

Ketiga, penting sekali untuk memahami life-structure masing-masing.

Life-structure ditentukan oleh faktor herediter dan pembentukan atau pengalaman belajar masa kanak-kanak. Sebaiknya kenalilah dengan baik karakter pasangan Anda dan faktor-faktor apa yang membentuknya sejak dia kecil. Sebab itu masa-masa itu banyak membentuk pribadinya sekarang. Setelah itu cobalah pertimbangkan dengan matang, apakah Anda bisa hidup berpuluh-puluh tahun kemudian dengan orang seperti itu.

Keempat, selama Anda bersahabat dan mencoba memilih pacar di antara sahabat Anda waspadai hal-hal berikut ini: Hindari tipe pria/wanita perayu-penggoda, dan permisif (tidak punya komitmen moral—biasanya dibesarkan dalam keluarga yang “lapar cinta”). Juga waspadai orang yang penuh janji muluk tapi tak pegang janji serta sesungguhnya egois—tidak siap menderita. Sebaliknya Temukan dan bangunlah hubungan istimewa dengan orang yang anda percayai—dapat diandalkan, beriman—setia, dan anda betul-betul kenal dgn baik dan siap menerima dia apa adanya (bukan apa adanya), demikian juga sebaliknya.

Sebagai kesimpulan, sabarlah menjalani masa remaja (muda) Anda. Bergaullah seluas-luasnya dengan lawan jenis Anda untuk mengenal dunia yang berbeda dengan Anda. Bersahabatlah dengan mantap sebelum memutuskan berpacaran. Sampai akhirnya Anda menemukan ‘teman’ yang sepadan.

Jika Anda menemukan “pada waktunya” dan “orang yang tepat” maka itulah yang akan menyelamatkan Anda pribadi—karir anda, pernikahan anda dan keturunan (sambungan keturunan dari orangtua) selamanya. Itulah tanda bakti terbaik anda kepada orangtua, yakni memilih teman hidup yang tepat dan sesuai, yang bisa meneruskan keturunan yang tangguh dan menjadi berkat. Jika engkau salah memilih, salah menikah dan menghasilkan pernikahan yang buruk, secara tidak langsung Anda sudah “membunuh” ke atas. Biayanya terlalu mahal! Karena itu bijaklah bersahabat dan memilih calon teman hidup.

Pdt Julianto Simanjuntak
http://www.pedulikonseling.or.id/PELIKAN

Diambil dari:

www.terangdunia.com

20 March 2010