Butje adalah pemuda ganteng. Maklum masih keturunan campuran, atau biasa disebut berdarah Indo. Tentu saja banyak gadis yang tertarik kepadanya. Namun demikian soal menikah adalah suatu hambatan baginya.“Tolong cariin, dong,” bisik Butje kepada Dodo, di pesta pernikahan sobatnya itu.
“Sepanjang yang saya tahu, sudah lebih dari sepuluh gadis yang kamu pacari. Semuanya cantik-cantik lagi,” ujar Dodo. “Masak tidak ada satupun yang cocok?”
“Kalau buat aku sih semua mereka itu cocok,” balas Butje. “Tapi belum ada yang cocok dengan kemauan mama.”
Beberapa minggu kemudian, ketika Dodo dan istrinya jalan-jalan ke mal, mereka memergoki Butje sedang bergandengan mesra dengan seorang gadis cantik. Dari caranya berdandan jelas terlihat dia adalah gadis metropolitan.
“But, kelihatannya sudah OK nih?” bisik Dodo, sementara istrinya berbicara dengan sang gadis.
“Doain aja. Mama aku juga setuju banget,” balas Butje singkat.
Sebulan kemudian telepon genggam Dodo bordering. Ternyata Butje. Dugaan Dodo bahwa dia bakal menerima berita bahagia ternyata meleset.
“Kami sudah putus,” kata Butje singkat.
“Apa lagi masalahnya?” tanya Dodo.
“Papa tidak setuju!”

(Pesan moral: Bagi kita orang Timur, perkawinan bukan saja ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, tapi sesungguhnya itu adalah ikatan antara dua keluarga besar. Namun, sebagai sebuah rumahtangga, ikatan perkawinan seyogianya hanyalah antara suami-istri itu saja. Orang lain, siapapun dia, berada pada posisi sebagai orang ketiga.”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” Kej. 2:24; Mat. 19:5.)

Diambil dari: http://www.kadnet.org