Siang itu terjadi pertengkaran amat sengit antara sepasang suami-istri. Sang suami kemudian meninggalkan rumah pergi jalan-jalan. Tujuannya untuk mencari angin sambil meredakan amarah. Menjelang malam, setelah banyak merenung dan menyadari kekeliruannya, sang suami menelpon ke rumah. Dia berniat untuk menyudahi pertengkaran.
“Halo sayang, kamu masak apa untuk makan malam kita?” kata sang suami sambil mematut-matutkan suara selembut mungkin, setelah mendengar istrinya yang menjawab telepon.
“Ha! Kamu tanya saya masak apa?” sergah sang istri yang nampaknya masih geram. “Masak racun!”
Sedikit tersentak sang suami buru-buru menjawab:
“Kalau begitu jangan masak banyak-banyak, cukup buat kamu sendiri saja. Saya mau mampir makan malam di restoran!”

(Pesan moral: Marah adalah manusiawi. Setiap orang yang normal, yang memiliki rasa dan karsa, bisa saja menjadi marah. Orang Kristen juga boleh marah, asalkan pantas dan tidak memendamnya lama-lama. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berdosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” Ef. 4:26.)

Diambil dari: http://www.kadnet.org