Tomi menelpon Roni, sahabat karibnya sejak belasan tahun lalu ketika sama-sama aktif di satu jemaat sebagai anggota PA. Mereka sudah lama tidak bersua karena Tomi sekarang bermukim di luar negeri.“Hei, Ron, apa kabar?”
“Eh Tom, aku baik-baik saja.”
“Gimana, kamu sudah menikah?” tanya Tomi.
“Belum ada yang kena di hati,” sahut Roni.
“Kamu terlalu pilih-pilih sih. Tidak ada gadis yang sempurna,” Tomi menasihati karena tahu benar dengan sifat temannya itu.
“Sebenarnya ada, Tom. Dia anggota baru di jemaat kita, pindahan dari tempat lain.”
“Maksud kamu, dia gadis yang sempurna? Begitu?” Tomi mengejar penuh entusias.
“Benar, Tom,” balas Roni. “Menurut aku, dialah gadis sempurna yang aku idam-idamkan.”
“Lalu, kenapa kamu tidak langsung melamarnya saja?”
“Sudah, tapi ditolak,” balas Roni dengan nada kecewa. “Alasannya, dia juga sedang mencari pria yang sempurna!”

(Pesan moral: Menginginkan yang terbaik bagi diri sendiri adalah hak setiap orang, dalam hal apapun. Masalahnya, banyak orang menghendaki kesempurnaan ada pada pihak orang lain, tetapi mengabaikannya bagi diri sendiri. “Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna…usahakanlah dirimu supaya sempurna” 2Kor. 13:9, 11.)

Diambil dari: http://www.kadnet.org