Pernikahan Adam dan Hawa adalah pernikahan terbaik yang pernah manusia alami, karena manusia “dinikahkan” oleh Tuhan dalam keadaan yang sempurna tanpa dosa. Adam dan Hawa sama-sama suci dan murni hatinya di hadapan Tuhan. Waktu itu Adam sendiri belum tahu apa itu pernikahan. Yang dia ketahui hanyalah, bahwa dia tidak menemukan seorang teman yang sesuai dengan dia (a suitable companion- English Today’s Version). Bagaimanakah Tuhan Allah, Sahabat Adam, mempertemukan dia dengan cinta sejatinya? Inilah kisah menemukan cinta sejati secara alkitabiah pada permulaan jaman.


Di dalam Kejadian 2: 20b dikatakan bahwa: “…tetapi bagi dirinya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia”. Jadi setelah Adam selesai menjalankan sebuah tugas dari Allah, yaitu untuk menamai binatang-binatang itu, maka Adam tidak menemukan sesosok ciptaan lain yang sepadan bagi dia. Ayat ini menyiratkan keadaan hati Adam yang sepi, sunyi karena diantara sekian banyak ciptaan yang dia namai itu, ternyata dia tidak menjumpai seorangpun yang seperti dirinya, yaitu manusia lain. Pengharapan itu pernah ada di dalam hati Adam pada waktu ia menjalankan tugasnya, tapi ternyata sampai ia selesai dengan pekerjaannya, pengharapannya itu ternyata kosong.

Sejak awal Tuhan tahu bahwa Adam yang dikasihiNya itu membutuhkan seseorang di sampingnya. Seseorang yang akan menjadi the right kind of partner (Contemporary English Version) dalam mengusahakan dan memelihara taman itu. Maka saat waktunya Tuhan itu tiba, Ia membuat Adam tertidur dan dibangunNyalah seorang perempuan dari salah satu rusuk Adam, dari bagian tubuh Adam sendiri. Ini berarti bahwa mereka adalah satu tubuh dan akan selalu menjadi satu kesatuan, menjadi satu daging.

Adam adalah seorang yang tidak mau minta macam-macam sama Tuhan, dalam soal jodoh dia tidak minta Hawa “model lain”. Sangat jauh bila dibandingkan dengan manusia jaman sekarang. Mengapa? Karena dia memiliki gambaran yang sangat baik terhadap pribadi Tuhan, yang pada waktu itu menjadi sahabatnya. Tuhan begitu dekat dengan Adam. Kondisi dimana Tuhan mengasihi Adam dan Adam mengasihi Tuhan. Adam percaya kepadaNya. Dia yakin bahwa sahabatnya itu pasti memperhatikan dia. Jadi ketika Adam dipertemukan dengan Hawa, dia menerima Hawa dengan penuh rasa syukur. Cinta kasih mereka langsung bersemi.

Tuhan tahu dan mengenal manusia ciptaanNya dengan baik. Maka Tuhan sandingkan Adam dengan Hawa. Dan karena mereka diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka kemulian Allah yang memancar keluar dari masing-masing pribadi itu membuat mereka saling terpesona dan jatuh hati satu sama lain. Mereka suka sama suka, mau sama mau. Mereka berkata: That’s him, that’s her.

Oleh: Andreas Kurniawan (seorang awam)